Film Jumbo (2025)

 

Aku kembali berlangganan Netflix kemarin entah setelah berapa bulan berhenti berlangganan. Alasan pertamanya adalah karena ada film Jumbo yang muncul di Netflix setelah ramai dibicarakan di sosial media. Jumbo adalah salah satu film dari tiga film yang aku incar untuk ditonton di tahun 2025.

Sebetulnya aku memang ingin berlangganan kembali Netflix dari kemarin-kemarin karena memang filmnya bagus-bagus menurutku. Apalagi rumor mengakuisi Warner Bros jika itu betul semakin bagus-bagus saja film-filmnya. Ada stand up show dari Pandji yang memang ramai juga berseliweran cuplikannya di sosial media, yang membuatku penasaran juga untuk menontonnya. Terlebih dalam rangka natal kemarin, muncul lagi film terbaru dari Mr. Bean!

Aku kemarin menonton film Jumbo bersama anak dan istriku. Menurutku ide ceritanya sangat bagus sekali. Ryan Adriandhy sebagai sutradara sekaligus penulis cerita begitu brilian membuat cerita ini. Sederhana iya namun masih menarik untuk ditonton karena sebetulnya tidak sesederhana itu. Belum lagi visual animasi yang sangat bagus sekali. Di luar kritik tentang film anak yang ada hantunya dan beragam hal-hal lain di luar realitas kehidupan sehari-hari, menurutku masih tetap bagus karena melahirkan imajinasi liar anak-anak.

Aku dan istriku bahkan terbawa emosi ketika melihat Don yang sudah beberapa kali diceritakan sangat egois, hanya mementingkan keinginan dirinya sendiri, tidak ada berkorbannya untuk temannya. Hingga di akhir cerita akhirnya dia berani mengorbankan apa yang selama ini menjadi harta berharganya : buku cerita dari kedua orang tuanya. Bahkan ada beberapa adegan yang menurutku bisa membawaku menjadi terharu juga.

Cerita awal tentang Don dan teman dekatnya yang sama-sama dibesarkan di keluarga yang ‘tidak utuh’ mungkin bisa mewakili anak-anak yang dari kecil tidak didampingi oleh kehadiran kedua orang tuanya. Belum lagi cerita Ata yang begitu dekat dengan kakaknya dan berdialog tentang kondisi ekonominya dan tadkir. Selanjutnya selayaknya cerita anak-anak kebanyakan, bermain, bermusuhan dan berbaikan lagi. Saling ejek, saling menguatkan, berkompetisi, hingga saling membantu.

Cerita mulai menarik ketika kepala desa seolah-olah membela warganya, padahal dia sudah bersekongkol dengan orang yang ingin merebut wilayah itu. Beberapa kondisi sosial mulai terekam di sini. Pembebasan lahan yang terhalang oleh kepentingan warga, hingga kondisi emosional kepala desa yang merasa kehidupan tidak adil baginya.

Hantu menjadi bagian yang banyak dikritik oleh banyak orang. Meri menjadi sosok hantu yang bisa terlihat oleh orang kebanyakan. Meri memiliki keinginan untuk membebaskan kedua orang tuanya yang ditangkap oleh kepala desa di dalam radio (hantu disimpan di dalam radio). Menarik juga hantu disimpan dalam radio, mungkin entah karena energi listrik atau energi apa. Aku tidak menangkap kenapa kepala desa ingin menangkap hantu keluarga Meri, apakah untuk menghidupkan kembali istrinya yang sudah mati atau karena apa. Keluarga Meri seolah-olah menjadi hantu gentayangan yang ‘belum bisa pulang’.

Di akhir cerita ada momen yang menarik di mana neneknya Don bercerita tentang sebuah foto. Ternyata itu adalah foto ketika dia kecil dan sedang bersama temannya, Meriana, yang ternyata adalah hantu yang bernama Meri itu. Cerita juga berakhir dengan ditangkapnya kepala desa oleh warga dan kembalinya keluarga Meri ke tempat ‘seharusnya’.

Secara keseluruhan aku menilai film ini bagus sekali. Mulai dari cerita, visual, dan detail-detail lainnya. Dan aku senang film ini bisa muncul di Netflix, bisa ditonton kapan saja, seperti sekarang ini aku dan keluarga kecilku menonton di saat masa liburan sekolah.  

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Film The Avengers Age of Ultron (2015)

Film Avatar (2009)