Film Avengers Infinity War (2018)

 


Film tahun 2018 ini melanjutkan film Avengers sebelumnya. Dan tampilan visualnya sangat bagus sekali jika dibandingkan dengan film-film Avengers yang dirilis sebelum-sebelumnya. Film dimulai dengan dialog filosofis ketika Asgard diserang oleh Thanos. Kematian kalian tidaklah sia-sia, kalian sudah berkorban untuk keseimbangan alam semesta, kira-kira seperti itu yang diucapkan oleh pembantunya Thanos. Thanos percaya jika alam semesta sudah kelebihan ‘beban’, maka cara merawatnya adalah dengan menyeimbangkannya kembali. Jika melihat ini aku teringat pada teori depopulasi. Ada juga kalimat lainnya dari Thanos di bagian ini, “Untuk apa merasa takut, apapun itu, takdir akan tetap datang.”

Dr Strange yang difilmkan oleh pemeran Sherlock Holmes edisi serial BBC juga muncul di film ini bersama Spider-Man. Tujuan filmnya sebenarnya sederhana, Thanos ingin mengumpulkan enam batu keabadian supaya bisa ‘menghilangkan’ setengah populasi di alam semesta. Tahnos melihat alam semesta ini sudah rusak parah karena ulah penghuninya juga. Maka dia merasa perlu untuk memperbaikinya.

Perang-perang langsung secara masal pun terlihat di film ini seperti ketika Wakanda diserang. Avengers melawan banyak sekali jumlah pasukannya Thanos. Sementara ketika peperangan terjadi, di planet Titan, Dr Strange menyerahkan batu keabadiannya, namun dia sempat melihat ke masa depan. Dia sempat bilang jika ada satu yang selamat dari semua peristiwa ini. Dia mengucapkan kalimat itu pada Iron Man.

Thanos sudah melihat berbagai peristiwa mengerikan di dalam hidupnya. Mulai dari kemiskinan yang bertalian erat dengan kelaparan hingga peperangan. Dia juga merasa jika alam semesta ini terbatas, tidak mungkin bisa terus-menerus dipakai oleh penghuninya. Thanos bahkan tidak pernah menyebut dirinya pahlawan, dia hanya ingin menyeimbangkan alam semesta dan memperbaikinya, yang sudah penuh dengan kekacauan.

Thanos dicap sebagai kejam dan jahat, tapi bagaimana dia mendidik anaknya Gamora? Dia menanamkan nilai kejujuran pada anaknya. Bagaimanapun Thanos dicap buruk, dia tetap ingin anaknya menjadi anak yang jujur. Bahkan Gamora bukanlah anak kandung dari Thanos sendiri, dia adalah anak angkat Thanos. Thanos yang dianggap kejam itu dan tidak memiliki apapun untuk dicintai, ternyata sangat mencintai anaknya, Gamora. Itu terlihat ketika dia akan mengambil batu jiwa yang harus ditukar dengan apa yang dia cintai. Thanos sempat menangis.

Ada juga dilema moral seperti yang terjadi pada Wanda. Ketika dia harus memilih antara banyak orang atau Vision yang dia cintai. Sebenarnya ini bisa selesai jika di awal Wanda berani membiarkan Vision hancur bersama batu yang ada di dalam dirinya. Namun Wanda tidak ingin Vision hancur.

Thanos akhirnya berhasil mengumpulkan keenam batu keabadian dan melakukan apa yang selama ini diinginkannya, ‘menghilangkan’ setengah populasi alam semesta. Sebagian Avengers langsung menghilang. Dan ‘kepunahan’ ini terjadi secara random, entah dia kaya atau miskin, pintar atau bodoh, laki-laki atau perempuan, semuanya bisa menghilang.

Apa yang diinginkan Thanos setelah semua ini tercapai? Dia benar-benar melakukan apa yang diinginkannya. Dia beristirahat dan bersyukur sembari melihat matahari terbit. Orang-orang kadang hanya menginginkan hal sederhana di ujung kehidupannya. Jika bagian yang ini aku menjadi teringat akhir dari film The Shawshank Redemption, di mana akhirnya setelah kabur dari penjara, pemeran utama di film itu melakukan apa yang selama ini diinginkannya, tinggal di pantai dan memperbaiki perahu kecil.

Apa yang bisa kita ambil dari film ini? Tentang depopulasi apakah harus setuju? Sejujurnya jika kita lihat, lingkungan memang sudah mulai rusak oleh tangan-tangan manusia, biasanya melalui perusahan-perusahaan besar. Mereka juga bisa dengan mudah mengklaim kelaukan mereka itu untuk mencari uang agar bertahan hidup. Populasi yang banyak memang akan menghasilkan efek yang serius juga. Bahkan pemerintah Indonesia pernah menggaungkan program KB (Keluarga Berencana) untuk menekan angka kelahiran menjadi setiap keluarga cukup dengan dua anak saja.

Gejala yang muncul dewasa ini bahkan berkebalikan dengan semua itu. Angka kelahiran di berbagai belahan dunia turun dengan drastis. Mulai dari Jepang, Italia, Jerman, semuanya sudah ‘lelah’ dengan mengurus dan melahirkan anak. Bahkan di beberapa negara tertentu memiliki anak diberikan insentif oleh pemerintahnya sendiri. Sementara itu di negara ‘dunia ketiga’ angka kelahiran masih tinggi. Di negara maju bahkan mereka menemukan teori Child Free atau hidup tanpa memiliki anak.

Lantas bagimana dengan pandanganku? Aku setuju jika lingkungan ini sudah rusak. Kebanyakan manusia juga jika disebar secara tidak merata akan menimbulkan kerusakan juga, disamping kemajuan yang sudah diperoleh. Aku percaya jika Tuhan sudah mengatur semuanya, segalanya. Kita hanya bisa usaha semampu apa yang kita bisa untuk menjaga dan merawat lingkungan. Bagian besar dan kecilnya, masuk ke dalam takdir Tuhan, dimana hanya Tuhan saja yang mengetahuinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Film The Avengers Age of Ultron (2015)

Film Jumbo (2025)

Film Avatar (2009)