Film The Da Vinci Code (2006)
Film ini dirilis pada tahun 2006, berarti ketika aku masih
berada di masa SMP. Ini entah keberapa kalinya aku menonton film ini. Aku juga
lupa apa pernah membaca novelnya atau belum. Yang jelas, cerita di film ini
sangat menarik bagiku dan aku sangat menyukainya. Kenapa? Karena menceritakan
sejarah, simbol-simbol, penelusuran imajinatif-konspiratif, dan Eropa,
khususnya Italia.
Film ini tidak seperti kebanyakan film lainnya yang
menceritakan peristiwa tokoh pertama dalam rentang tahun atau bahkan
berhari-hari. Film ini hanya menceritakan kisah Langdon yang hanya beberapa
hari. Bahkan, Sophie sejak awal film ini sampai akhir film ini, pakaiannya
tidak berganti! Namun, dengan waktu yang singkat itu, ada beberapa wilayah
latar belakang yang membuatku terkesan. Apalagi yang berkaitan dengan gereja.
Cerita diawali dengan Sauniere, kakek Sophie yang juga
penjaga museum, dibunuh oleh anggota kelompok Opus Dei. Opus Dei ini sebenarnya
dihidupkan kembali oleh orang yang memiliki kepentingannya sendiri. Dia memakai
kelompok ini dan memanfaatkan kefanatikan anggota-anggotanya. Sauniere sendiri
adalah salah satu anggota dari penjaga ‘cawan suci’.
Cerita mulai rumit ketika keamaan Perancis sampai dengan
orang penting gereja terlibat dalam kelompok Opus Dei. Sauniere sebelum
meninggal menuliskan pesan yang merupakan kode. Kode inilah di sepanjang film
ini yang menjadi alur utamanya. Langdon bersama Sophie menelusuri setiap kode
yang bisa dipecahkan. Perjalanan mereka ini membuat deg-degan dan juga
mengagumkan, karena temuan-temuan mereka beririsan dengan cerita sejarah yang
faktual.
Film ini dan beberapa film yang diambil dari novel Dan Brown
memang kadang-kadang tidak tertebak. Seperti teman Langdon yang membantu mereka
kabur ke London, ternyata dialah yang memanfaatkan kelompok Opus Dei dan dia
sendiri berhasrat pada cawan suci dan mengikuti sejarahnya.
Ada beberapa pandangan menarik di film ini tentang sejarah
pada umumnya. Seperti cerita Perang Salib, sebenarnya dimulai oleh Kesatria
Templar untuk mengamankan cawan suci. Cerita Konstantin yang ternyata setengah
pagan setengah katolik. Dan lukisan Da Vinci tentang perjamuan Yesus yang
ternyada ada seorang perempuan dan itu adalah istrinya, Maria Magdalena. Dan
yang paling mengejutkan, Magdalena hamil anak Yesus ketika Yesus dibunuh. Inilah
poin keabadian biologis Yesus di bumi, Yesus memiliki anak biologis dan
darahnya mengalir terus hingga keturunannya saat ini. Dan cawan suci itu
merupakan simbol dari rahim perempuan. Sama dengan Phallus yang disimbolkan
dengan panah ke atas atau batang yang tegak. Bahkan simbol militer kaya dengan
simbol ini. Banyak simbol-simbol bangunan di dunia pun terinspirasi dari sini.
Dari alat reproduksi wanita dan laki-laki.
Sophie pernah melihat kakeknya bersama anggotanya melakukan
sebuah ritual. Padahal ritual itu hanyalah hubungan seks kakeknya dengan
seorang perempuan. Lihatlah, bagimana seks menjadi ritual yang begitu
berkeramat sejak dahulu kala. Dan jika cawan itu adalah rahim perempuan, maka
aku teringat pula pada budayawan Sunda yang mengatakan jika Diah Pitaloka
Citraresmi pun dalam pandangan tertentu, adalah simbol. Jika katanya dipecah
satu per satu, maka akan memberikan sebuah arti yang jelas sekali bukan mengacu
pada sosok perempuan.
Cerita diakhiri dengan berhasilnya Langdon memecahkan
Cryptex yang ditinggalkan oleh Sauniere. Ternyata, Sophie adalah keturunan dari
Yesus. Dia entah keturunan ke berapa dan memiliki ‘Royal Blood’. Karena alasan
ini juga, dia diincah oleh orang-orang yang ingin melenyapkan keturunan Yesus,
karena ini bagi mereka akan mengganggu keimanan mereka. Aku jadi teringat kisah
keturunan Rasulullah Saw, dimana keturunan beliaupun banyak yang ‘mengincar’.
Langdon di akhir film mendapatkan pencerahan. Kode yang
selama ini dia berusaha pecahkan, ternyata menuntunnya pada sebuah tempat di
mana film ini dimulai, museum di Paris. Di bawah situlah makam Maria Magdalena
berada.

Komentar
Posting Komentar