Film Prince of Persia The Sands of Time (2010)

 


Film kali ini yang akan kubahas adalah film tahun 2010, Prince of Persia : The Sands of Time. Aku senang sekali dengan film-film yang berlatar belakang sejarah dan kerajaan. Film ini mengangkat cerita di masa kerajaan Persia.

Cerita diawali ketika Raja Persia, Sharaman sedang melewati pasar bersama pasukannya. Kemudian raja melihat sebuah peristiwa dimana seorang anak membantu anak kecil lainnya yang mengambil makanan. Pengawal raja ikut mengejar anak kecil itu. Hingga anak kecil itu akan dihukum, raja melihat potensinya. Anak itu akhirnya dibawa dan diurus oleh raja di istana. Nama anak itu, Dastan.

Dastan setelah dewasa, dia hidup mengabdi pada kerajaan, karena raja telah memberinya kehidupan, bahkan keluarga. Dastan menjadi saudara bagi dua anak kandung raja : Tus dan Garvis. Raja memiliki seorang penasehat, bernama Nizam. Nizam dulu pernah menyelamatkan nyawa raja ketika mereka masih remaja.

Persia berencana akan menyerang kerajaan Alamut, yang dipimpin oleh seorang ratu yang cantik, bernama Tamina. Alasan Persia menyerang Alamut, dikemukakan oleh Nizam, karena mereka membuat senjata dan memasok senjata untuk musuh-musuh Persia. Mereka dianggap berkhianat pada Persia. Mereka dianggap memiliki pabrik senjata yang disembunyikan dari Persia. Mereka dianggap memiliki senjata rahasia. Apakah ini mirip seperti masa kini? Dimana negara satu menyerang negara yang lain karena dianggap memiliki senjata ‘rahasia’? Padahal kenyataannya selalu ada alasan yang tidak diumumkan ke publik, hanya menjadi rahasia mereka.

Dastan bersama teman dekatnya, Bis, menyerang tembok Alamut. Karakter mereka adalah gerilya, bahkan tidak ikut arahan dari pasukan Persia yang dipimpin oleh Tus. Namun, justru merekalah yang berhasil menjebol tembol Alamut terlebih dulu. Singkat cerita, akhirnya pasukan Persia bisa menerobos masuk ke dalam istana kerajaan Alamut. Tamina sedang berada di sana, kemudian kaget ketika melihat belati ajaib berada pada Dastan. Dastan mengambil belati itu ketika berduel dengan seorang prajurit dari Alamut.

Tus berencana akan menjadikan Tamina istri (lagi). Sharaman datang melihat Alamut dan sedikit marah karena Persia menyerangnya. Namun Tus memberikan alasannya yang sebenarnya dia telah dihasut oleh Nizam. Nizam memberikan sebuah jubah pada Tus, yang kemudian memberikannya pada Dastan untuk dihadiahkan pada Raja Sharaman. Ketika raja memakai itu, raja kemudian terbakar dan meninggal. Jubah itu adalah jubah beracun. Dastan dianggap membunuh Sharaman, akhirnya Dastan melarikan diri bersama Tamina. Cerita perjalanan mereka dan kedekatan mereka berdua, dimulai dari sini.

Ada yang menarik ketika Tus berencana menikahi Tamina, Tamina merasa lebih baik dirinya mati dari pada harus menikah dengan Tus. Cerita ini mengingatkanku pada kisah Perang Bubat, ketika Diah Pitaloka Citraresmi menolak untuk ‘tunduk’ pada Majapahit. Apakah kisah itu benar nyata atau hanya simbolisme, bisa kita bicarakan belakangan. Benang merahnya adalah, perempuan bermartabat, ketika dia harus menjalani kehidupan yang tidak disukainya bahkan hina, mereka memilih lebih baik mati. Alasan Tamina pada awalnya menerima Tus adalah karena melihat belati ajaib ada pada Dastan.

Pernikahan orang istana dengan orang istana lagi biasanya untuk memperkuat posisi politik. Sharaman sebenarnya melihat mentalitas raja ada pada Dastan. Tus mulai ada mentalitas rajanya, tetapi itu muncul belakangan. Apa mentalitas raja? Salah satunya adalah bijaksana.

Ada beberapa wilayah yang disebut di film ini. Pertama tentu saja Persia, yang memang ada kerajaan itu di dalam sejarah peradaban dunia. Alamut adalah sebuah daerah yang memang benar-benar ada dan berada di wilayah utara Iran. Tempat ini terkenal karena ada Alamut Castle yang menjadi markas dari kelompok Nizari Ismailiyah, yang kemudian sering disebut dengan Assassins. Bukhara juga merupakan sebuah tempat yang berada di Uzbekistan sekarang. Nasaf sekarang berubah namanya menjadi Qarshi dan berada di Uzbekistan juga.

Ada beberapa wilayah yang mungkin fiktif atau memang terinspirasi dari wilayah yang nyata. Ada Korkhan, mungkin yang dimaksud adalah Khurasan. Ada juga Avrat, apakah mengambil dari Eufrat? Sungai Eufrat?

Sama seperti film dari Disney lainnya yang aku kurang suka, karena memasukan ‘permainan waktu’. Belati ajaib itu diceritakan bisa membuat siapapun yang memegangnya dan memakainya, bisa mengembalikan waktu selama kurang dari satu menit. Syaratnya belati itu harus diisi oleh pasir yang berada di tempat khusus di Alamut. Ada sumber pasir yang disebut dengan Pasir Gelaskaca. Itulah yang diincar Nizam sebenarnya, senjata rahasia, agar dia bisa mengembalikan waktu jauh ke masa lalu. Jika pasir bisa mengembalikan waktu ke belakang satu menit, maka pasir gelaskaca bisa mengembalikan waktu sejauh yang diinginkan.

Waktu bagiku berjalan objektif dan berada dalam satu garis lurus. Sementara di film-film Disney, kebanyakan waktu dijalani secara subjektif. Bagaimana mungkin waktu seseoarang bisa berubah, tetapi waktu orang lain tidak? Bagaimana dengan kehidupan, kesadaran orang lainnya, jika hanya waktu kita seorang yang berubah? Bagaimana dengan waktu objektif yang kita lalui bersama di kehidupan ini? Jadi urusanku dengan Disney masih di masalah waktu. Aku lebih senang dengan film realistis. Imajinasi boleh, namun tidak berlebihan hingga melewati batas nalar manusia tentang kehidupan pada kehidupannya itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Film The Avengers Age of Ultron (2015)

Film Jumbo (2025)

Film Avatar (2009)